MUTU UDARA KOTA
1 PENDAHULUAN
Hampir tidak ada an kota-kota yang dulu terkenal dengan udaranya yang murni, kota di dunia ini yang dapat menghindar dari bencana modern pencemaran udara. Bahktak tercemar misalnya Buenos Aires, Denver, dan Madrid sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang baik yang sehat maupun sakit masuk rumah sakit. Tapi hal itu tak perlu terjadi, karena kota-kota dan bangsa-bangsa di seluruh dunia mulai menerapkan berbagai strategi yang dapat mengatasi masalah pencemaran udara dengan baik. Strateg itu mulai dari larangan parkir dan hari tanpa mengemudi sampai program ketat dan berkekuatan hukum untuk memasang kendali pencemaran yang canggih di pusat-pusat pembangkit tenaga. Hanya sedikit usaha ini yang mencapai keberhasilan sempurna, tetapi banyak juga yang cukup berhasil bahkan begitu berhasilnya sampai terkadang tidak mendapat perhatian.
2 PEMBAHASAN
Sumber Pencemaran Udara
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah sesekali menghirup udara yang tidak sehat, sedangkan 10 persen lain menghirup udara yang bersifat "marjinal". Tetapi bahkan di AS, yang tingkat pencemaran udaranya cenderung jauh lebih rendah daripada di kota-kota di negara berkembang, studi oleh para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kematian akibat pencemaran udara berjumlah antara 50.000 dan 100.000 per tahun.
Pencemaran lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa, dan anak-anak miskin yang terpajan pada lebih banyak jenis polutan dan tingkat pencemaran yang lebih tinggi adalah yang paling terpengaruh. Studi telah membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal di kota dengan tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit. Rendahnya berat badan anak-anak dan kecilnya organ-organ pertumbuhan mereka memberi risiko yang lebih tinggi pula bagi mereka. Demikian pula kebiasaan mereka; bayi menghisap sembarang benda yang tercemar, anak-anak yang lebih besar bermain-main di jalanan yang dipenuhi asap kendaraan dan buangan hasil pembakaran bermuatan timah.
Bahan Pencemar Udara Khusus
Sejak tahun 1970-an, kebijakan pencemaran udara AS cenderung berpusat pada pengendalian beberapa jenis polutan perkotaan yang serius: partikulat zat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.
Karbon monoksida. WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya seorang wanita hamil terpajan, dan bergantung pada kekentalan polutan di udara.
Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti pengubah kalitis, yang mengubah sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah menurunkan emisi dan kadar konsentrasi karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon monoksida turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989, walaupun terdapat kenaikan 39 persen untuk jarak kilometer yang ditempuh. Namun kebanyakan dunia negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo kota di dunia.
Nitrogen Oksida. Nitrogen oksida yang terjadi ketika panas pembakaran menyebabkan bersatunya oksigen dan nitrogen yang terdapat di udara memberikan berbagai ancaman bahaya. Zat nitrogen oksida ini sendiri menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. Akhirnya zat-zat oksida ini bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dan zat-zat hidrokarbon lain di sinar matahari dan membentuk ozon rendah atau "smog" kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.
Sulfur Dioksida. Emisi sulfur dioksida terutama timbul dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur terutama batubara yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanasan rumah tangga. Sistem pemantauan lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan bahwa pada 1987 dua pertiga penduduk kota hidup di kota-kota yang konsentrasi sulfur dioksida di udara sekitarnya di atas atau tepat pada ambang batas yang ditetapkan WHO. Gas yang berbau tajam tapi tak bewarna ini dapat menimbulkan serangan asma dan, karena gas ini menetap di udara, bereaksi dan membentuk partikel-partikel halus dan zat asam.
Benda Partikulat. Zat ini sering disebut sebagai asap atau jelaga; benda-benda partikulat ini sering merupakan pencemar udara yang paling kentara, dan biasanya juga paling berbahaya. Sistem Pemantauan Lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 bahwa 70 persen penduduk kota di dunia hidup di kota-kota dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO.
Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah "partikel-partikel halus" butiran-butiran yang begitu kecil sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Sebagian besar partikel halus ini terbentuk dengan polutan lain, terutama sulfur dioksida dan oksida nitrogen, dan secara kimiawi berubah dan membentuk zat-zat nitrat dan sulfat. Di beberapa kota, sampai separo jumlah benda partikulat yang disebabkan ulah manusia terbentuk dari perubahan sulfur dioksida menjadi partikel sulfat di atmosfer. Di kota-kota lain, zat-zat nitrat yang terbentuk dari proses yang sama dari oksida-oksida nitrogen dapat membentuk sepertiga atau lebih benda partikulat.
Hidrokarbon. Zat ini kadang-kadang disebut sebagai senyawa organik yang mudah menguap ("volatile organic compounds/VOC"), dan juga sebagai gas organic reaktif ("reactive organic gases/ROG"). Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Jenis-jenis hidrokarbon lain, yang sebagian menyebabkan leukemia, kanker, atau penyakit-penyakit serius lain, berbentuk cairan untuk cuci-kering pakaian sampai zat penghilang lemak untuk industri.
3 ANALISA
Program Pengendalian Polusi
Penggunaan kendaraan bermotor menyebabkan lebih banyak polusi udara daripada kegiatan lain apapun, menimbulkan hampir separo oksida nitrogen yang diakibatkan ulah manusia, dua pertiga karbon monoksida, dan separo hidrokarbon di kota-kota industri, di samping hampir seluruh timah di udara di negara-negara berkembang. Di sebagian besar negara berkembang, sumber pembangkit tenaga pemanas menimbulkan sampai dua pertiga emisi sulfur dioksida, dan antara sepertiga sampai setengah emisi total polutan udara yang lain. Jadi, dua prioritas utama bagi program pengendalian pencemaran adalah kendaraan bermotor dan sumber pembangkit tenaga, walaupun di beberapa negara berkembang pusat perhatian utama adalah pengendalian pencemaran yang timbul dari penggunaan batubara murah yang banyak digunakan untuk memasak dan alat pemanas rumah tangga.
Kecuali di kota-kota yang sarana transportasi utamanya masih sepeda dan jalan kaki, hampir tidak mungkin memerangi pencemaran udara tanpa "menyerang" pipa knalpot sepeda motor/skuter, mobil, truk, dan bus. Bahkan di kota-kota yang masih "didominasi" oleh sepeda, jumlah mobil kini semakin meningkat. Lebih dari 500 juta mobil dan kendaraan umum kini memadati jalan-jalan dunia, 10 kali lebih lipat jumlah pada 1950. Dan menurut proyeksi terbaru, jumlah kendaraan di dunia akan berlipat dua dalam 40 tahun mendatang, sampai kira-kira satu miliar. Kebanyakan pertambahan ini akan terjadi di negara-negara berkembang, yang permintaan untuk mobilnya diperkirakan meningkat 200 persen di akhir abad ini; dengan demikian sangat memperburuk masalah pencemaran saat ini, terutama di perkotaan.
Di daerah-daerah yang masih menggunakan bensin bermuatan timah, salah satu strategi pengendalian pencemaran yang paling efektif adalah sama sekali melarang penggunaan zat aditif tersebut, atau menurunkan secara tajam tingkat yang diperbolehkan dalam bensin. Ketika hal ini terjadi di AS, penggunaan bahan bakar bermuatan timah menurun lebih dari 50 persen dari tahun 1976 sampai 1980, dan mengakibatkan menurunnya kadar timah dalam darah sampai 37 persen. Beberapa kota dan negara amat menghendaki adanya bahan bakar alternatif yang membakar lebih bersih daripada bensin dan minyak diesel berbahan dasar petroleum yang konvensional. Pilihan-pilihan antara lain berupa campuran "berwawasan lingkungan", hasil formulasi ulang yang menurunkan daya menguapnya dan dengan demikian menurunkan pula daya emisi senyawa organik yang mudah menguap dan menurunkan konsentrasi benzene dan komponen beracun lain.
Pilihan lain adalah "mengoksigenasi" bahan bakar tersebut dengan menambahkan alkohol. "Gasohol" (bensin dan alkohol) semacam itu terbakar lebih sempurna, dan dengan demikian menurunkan emisi karbon monoksida. Bahan bakar diesel dengan tingkat sulfur yang diturunkan mengeluarkan sulfur dioksida dan polutan lain yang lebih sedikit. Jenis-jenis bahan bakar hasil formulasi ulang dapat secara sendiri-sendiri menurunkan tingkat emisi sampai 30 persen, seperti yang terjadi di bagian Timur Laut AS ketika pertama kali diwajibkan di akhir 1980-an.
Pilihan lain yang lebih baik adalah alternatif non-petroleum seperti metanol, etanol, gas alam yang dimampatkan atau gas petroleum cair, hidrogen atau baterai listrik, karena bahan-bahan tersebut sama sekali menghapus pencemaran oleh pipa knalpot.
Jenis Kendaraan Bermotor Baru
Dengan adanya permintaan negara bagian California untuk memberlakukan aturan standar yang lebih ketat bagi penggunaan perangkat kendali pencemaran untuk mobil dan truk di tahun 1970-an, para pembuat katalis mulai memperbaiki mutu produk mereka dengan pengembangan sarana untuk memanaskan katalis sehingga mesin kendaraan dapat hidup lebih cepat dan pencemaran berkurang.
Persyaratan California itu juga membangkitkan arus inovasi dalam industri kendaraan. Walaupun mobil listrik merupakan salah satu kendaraan pertama di abad ini, teknologi ini tak berkembang sampai California menetapkan penjualan kendaraan tanpa emisi ("zero-emitting vehicles/ZEV"), mulai model tahun 1998. Sejak saat itu, boleh dikatakan semua pembuat mobil terkemuka di dunia, mulai BMW ampai General Motors, telah mengembangkan kendaraan bertenaga baterai, demikian pula sebagian pembangkit tenaga. Untuk membantu para pembuat mobil AS, pemerintah memberikan 8 juta dollar AS kepada US Advanced Battery Consortium untuk mengembangkan baterai yang ringan dan bertenaga tinggi.
Polusi Udara karena Kendaraan Bermotor
(Persen)
Perintah pelaksanaan ZEV baru merupakan satu komponen dari berbagai aturan standar pipa knalpot yang lebih ketat dan rumit yang disyaratkan oleh California dalam usahanya untuk secara tajam menurunkan pencemaran dari mobil, truk, dan bus. Peraturan negara bagian ini juga mensyaratkan penjualan kendaraan beremisi ultra-rendah ("ultra-low emitting vehicles/ULEV") dan kendaraan transisi beremisi rendah ("transitional low emitting vehicles/TLEV"), yang semuanya diperhitungkan untuk memasukkan tidak hanya mobil-mobil yang lebih bersih, tetapi juga bahan bakar yang lebih bersih ke pasaran. Sejauh ini, program California telah berhasil. Lebih jauh, karena alasan praktis, mobil bertenaga baterai sekali dipasarkan akan mencapai dan mempertahankan pasaran kendaraan ringan yang semakin besar. Mengikuti inisiatif California, 11 negara bagian AS, yang sebagian besar di bagian Timur Laut, memberlakukan pula standar ZEV/LEV. Jika pemberlakuan ini terus berlanjut, akan ada sekitar 2 juta ZEV di jalan-jalan AS pada tahun 2003. Jika diasumsikan lebih jauh bahwa tiap mobil dikemudikan sejauh rata-rata di AS saat ini, yaitu 48 km tiap hari, menggunakan 0,5 kilowatt jam per 1,6 km (yaitu konsumsi mobil bertenaga baterai TEVAN dari Chrysler, yang merupakan mobil listrik paling boros sampai sekarang), maka tiap mobil akan mengkonsumsi 15 kilowatt sehari semalam, dengan waktu isi ulang ("recharge") delapan jam. Konsumsi keseluruhan dari semua kendaraan ini berjumlah kurang lebih 4 juta kilowatt, atau satu persen kenaikan pada permintaan puncak. Untuk mengubah semua jenis kendaraan itu menjadi kendaraan bertenaga baterai diperlukan peningkatan kebutuhan listrik sekitar 25 persen tetapi juga penurunan emisi karbon dioksida dalam jumlah yang sama, asalkan konsumsi listrik sama dengan saat ini.
Dengan demikian, mobil bertenaga baterai akan membawa dua berita baik: pencemaran lokal seperti asap kabut dan karbon monoksida akan sangat terkurangi karena penghapusan pipa knalpot, pencemaran pemanasan global seperti karbon dioksida akan terkendali dengan digantinya mesin berpembakaran di dalam ("internal combustion engine") oleh pembangkit tenaga sentral yang lebih efisien. Jika semua mobil dapat diubah menjadi mobil bertenaga baterai yang lebih efisien daripada TEVAN, maka keuntungan akan lebih besar lagi.
4 KESIMPULAN
Dua puluh lima tahun yang lalu orang akan tertawa jika mendengar usulan untuk mengurangi pencemaran udara dengan cara mengatur mesin cuci atau bola lampu. Tetapi ledakan pertumbuhan penduduk dan pencemaran tidak memberikan banyak pilihan pada pemerintah, terutama pemerintah kota. Akibat yang terjadi adalah ledakan teknologi baru: mobil, pabrik pembangkit tenaga, cat dengan pencemaran udara nol atau hampir nol, dan bola lampu, mesin cuci, serta alat pemotong rumput yang juga hampir tidak menimbulkan pencemaran udara. Sejumlah teknologi lingkungan mutakhir kini menjadi semakin lazim sehingga kita hampir tidak menganggapnya sebagai teknologi baru lagi. Kapan semua itu akan berakhir tidak dapat diramalkan. Sesungguhnyalah, revolusi industri baru ini mungkin, seperti pencemaran udara dan hal-hal yang menimbulkannya, akan berhenti hanya bila industri itu sendiri berhenti. Dan itu mungkin tidak akan pernah terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
A Look Ahead: Year 2020: Proceedings of the Conference on Long-Range Trends for the Nation's Highway and Public Transit Systems. Washington, D.C.: Transportation Research Board, 1988.
Anderson, Evert. "Trains of Tomorrow," presented at Global Survival: Sustainable Development in the Networking World. Stockholm: Swedish Royal Institute of Technology, August 9-10, 1993.
Bates, D. V. and R. Sizto. "A Study of Hospital Admissions and Air Pollutants in Southern Ontario," Aerosols. S.D. Lee, et. al., eds. Chelsea: Lewis Publishers, 1986.
Blodgett, John. Health Benefits of Air Pollution Control: A Discussion. Washington, D.C.: Congressional Research Service, Library of Congress, February 27, 1989.
Cogan, Douglas. The Greenhouse Gambit: Industry Response to Climate Change. Washington, D.C.: Investor Responsibility Research Center, Inc., 1991.
Congress of the United States. Office of Technology Assessment. Acid Rain and Transported Air Pollutants: Implications for Public Policy. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, 1985.
Congress of the United States. Office of Technology Assessment. Catching Our Breath: Next Steps for Reducing Urban Ozone. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, July 1989.
Economic Commission for Europe. National Strategies and Policies for Air Pollution Abatement. New York: United Nations, 1987.
Enquete Commission of the German Bundestag. Protecting the Earth's Atmosphere, ed. & transl. into English by Wolfgang Fehlberg and Monica Ulloa-Fehlberg. - Bonn: Economica Verl.; Karlsruhe: Miiller, 1992; Dt. Ausg. u.d.T.: Klimaanderung gefahrdet globale Entwicklung. Economica Verl.
Environmental Economics Associates. "The Environmental Industry in the United States." Washington, D.C.: U.S. Environmental Protection Agency, January 1991.
Environmental Protection in the Industrial Sector in Japan. Tokyo: Industrial Pollution Control Association of Japan, 1983.
Japan's Industries Work for Conservation of Global Environment. Tokyo: Keidanren, 1992.
Moore, Curtis and Alan S. Miller. Green Gold: Japan, Germany, the United States and the Race for Environmental Technology. Boston: Beacon Press, 1994.
Sand, Peter. "Air Pollution In Europe: International Policy Responses," Environment (v. 29, no. 10). December 1987.
Schneider, Tonny, et al., eds. Atmospheric Ozone Research and Its Policy Implications: Proceedings of the 3d U.S.-Dutch International Symposium. New York: Elsevier, 1989.
The Economist. "Singapore's Green Crusade - Cleaning the Neighbours," February 1, 1992.
Weidner, Heimut. Air Pollution Control Strategies and Policies in the Federal Republic of Germany: Laws, Regulations, Implementation and Principal Shortcomings. Berlin: 95 Edition Sigma Bohn, 1986.
Wetstone, Gregory S. and Armin Rosencranz. Acid Rain in Europe and North America: National Responses to an International Problem. Washington,D.C.: Environmental Law Institute, 1983.
World Resources Institute. Car Trouble: How New Technology, Clean Fuels and Creative Thinking Can Revive the Auto Industry and Save Our Cities from Smog and Gridlock. Boston: Beacon Press, 1993.
World Resources Institute. World Resources 1992-93. New York: Oxford Union Press, 1992-93. New York: Oxford Union Press, 1992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar